• Jumat, 7 Oktober 2022

Pendekatan Budaya Membaca Terhadap Siswa Sekolah Dasar

- Jumat, 12 Agustus 2022 | 20:25 WIB
Murid-murid SD Ar Ruhaniyah 02 sedang membaca buku di sela-sela jam kosong pelajaran  (Dok. Nida)
Murid-murid SD Ar Ruhaniyah 02 sedang membaca buku di sela-sela jam kosong pelajaran (Dok. Nida)


KHATULISTIWAUPDATE.COM - Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik semester genap tahun akademik 2021/2022 sedang menjadi topik yang ramai dibincangkan di kalangan mahasiswa semenjak dilaksanakannya program tersebut di berbagai Universitas, tak terkecuali Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Pada Kuliah Kerja Nyata tahun ini, Universitas Pendidikan Indonesia memilih tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Sustainable Development Goals (SDG’s) Desa dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)".

Selaras dengan 18 sasaran SDG’s desa, kelompok-kelompok KKN diberikan tema untuk mewujudkan 18 sasaran tersebut. Kelompok 141 ditunjuk untuk mengangkat tema “Desa Peduli Pendidikan” pada kesempatan Kuliah Kerja Nyata kali ini. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar pembentukkan program kerja yang dilaksanakan oleh kelompok.
Seorang mahasiswa KKN UPI sedang melakukan sosialisasi kepada siswa SD Ar Ruhaniyah 2.

Baca Juga: Sembilan Tahun Berjalan SSB Nias KBB Makin Berprestasi

Memilih untuk berfokus kepada peningkatan literasi membaca, kelompok 141 membuat program pendekatan budaya membaca pada siswa di Sekolah Dasar (SD) Ar Ruhaniyah 2. Program ini dilakukan dengan tiga langkah, yakni pendataan, sosialisasi, dan implementasi. Pendataan difokuskan kepada minat baca siswa, kemudian sosialisasi dilakukan dengan mengangkat tema besar “budaya membaca”, dan implementasi diwujudkan dengan aktivitas SSB (Seminggu Satu Buku).

Pendataan minat baca siswa menunjukkan bahwa mayoritas siswa mengaku tidak sering membaca dan tidak begitu tertarik untuk membaca. Data kuesioner dan pengawasan di tempat juga membuktikan bahwa para siswa masih bingung dengan perbedaan jenis dan judul buku.

Data tersebut kemudian dijadikan basis untuk menentukan materi sosialisasi, yang mana diisi oleh pengenalan budaya membaca, penjelasan lebih lanjut mengenai aktivitas membaca, penjelasan dan pemberian contoh jenis-jenis buku, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Kalangan Pesantren dan Ribuan Santri Majalengka Pilih Ganjar Presiden 2024

Sosialisasi dilakukan dengan menggunakan metode interactive learning, dimana siswa diberikan gambar dan video animasi, serta sesi tanya jawab yang didampingi pemberian reward and punishment sehingga siswa dapat ikut serta secara aktif pada saat sosialisasi.

Setelah dilaksanakan sosialisasi, siswa dikenalkan dengan aktivitas SSB atau Seminggu Satu Buku. Kegiatan ini berfokus pada pendekatan budaya membaca kepada siswa dengan niat untuk meningkatkan minat baca mereka.

Untuk memupuk rasa minat baca pada siswa, teori Efferent Reading dan Aesthetic Reading dijadikan sebagai landasan dasar. Artinya, siswa bukan hanya didorong untuk mengetahui unsur intrinsik pada karya fiksi sebagai bentuk perwujudan Efferent Reading, tetapi juga didorong untuk menyelami bacaan mereka lalu menarik sendiri kesimpulan, makna, serta pesan moral cerita berdasarkan pengalaman dan rasa empati mereka sebagai bentuk perwujudan Aesthetic Reading.

SSB dilakukan dengan cara memberikan aktivitas kepada siswa untuk membaca buku apapun yang mereka suka dalam jangka waktu seminggu, lalu di minggu berikutnya siswa akan dievaluasi dengan cara storytelling.

Pada minggu evaluasi, tiga siswa diundi secara acak. Setelah itu, siswa yang namanya terundi harus maju dan menceritakan tentang buku yang ia baca, serta memberitahu pesan moral buku tersebut kepada teman-temannya.

Langkah-langkah tersebut tentunya tidak dilakukan tanpa alasan. Pertama, kebebasan dalam memilih buku yang diberikan kepada siswa adalah upaya agar siswa tidak menganggap membaca sebagai tugas semata karena limitasi yang diberikan. Segala jenis karya sastra juga dianggap dapat memberikan ilmu dan pengetahuan tersendiri kepada siswa tanpa membeda-bedakan jenis maupun genre buku tersebut, walaupun pemilihan tetap dibersamai dengan pembimbingan. Kedua, evaluasi yang dilakukan dengan cara storytelling juga diharapkan dapat memberikan dampak-dampak positif, seperti meningkatkan rasa keberanian siswa, melatih public speaking siswa sedari dini, dan menguji pemahaman siswa terkait bacaan mereka.

Tiga langkah di atas, yaitu pendataan minat baca, sosialisasi budaya membaca, dan implementasi dengan SSB, telah memberikan hasil yang berarti walaupun baru dilaksanakan dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Hal dapat dilihat dari peningkatan antusiasme siswa terhadap buku serta keinginan mereka untuk membaca secara rutin. (Nida)

Editor: Unggung Rispurwo Harianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X